1. Siapkan wadah masukkan tepung beras campur dengan air daun pandan suji dan garam aduk hingga merata.
2. Masak campuran tepung dan air daun pandan suji sampai matang.
3. Siapkan 1 wadah untuk tempat air matang dan cetakan cendol.
4. Tuangkan adonan kedalam cetakan cendol lalu tekan sehingga cendol dapat keluar dan jatuh kedalam air.

5. Lakukan sampai adonan cendol habis.
6. Rebus air santan, garam, dan daun pandan aduk hingga mendidih.
7. Angkat lalu tiriskan.
8. Siapkan gelas masukkan cendol secukupnya, campurkan santan, es batu, dan rebusan gula merah.
9. Sajikan.

1. Siapkan panci untuk merebus kacang merahnya. Pastikan kacang merah sudah direndam dulu sampai butirannya mengembang.
2. Isi panci dengan air secukupnya (kurang lebih 1.5-2 liter air). Rebus kacang merah yang sudah direndam dengan api sedang kecil sampai benar benar empuk.
3. Setelah empuk masukkan daun pandan yang sudah dicuci bersih. Aduk aduk sebentar.
4. Masukkan garam dapur, gula dan vanili bubuknya. Aduk aduk sebentar sampai semua bahan tercampur rata.
5. Larutkan bubuk coklat dengan air secukupnya. Tuang ke dalam adonan di atas dan aduk aduk sebentar sampai mendidih dan kacang merah agak mengental.
6. Masak Santan kental dan beri sedikit garam. Aduk aduk sampai santan mendidih. Jangan lupa jaga jangan sampai santan pecah.
7. Setelah semua bahan diatas dingin, tuang kacang merahnya ke dalam gelas atau mangkok.
8. Beri irisan nangka dan beberapa butir es batunya. Terakhir tuang dengan santan kental dan beri sedikit susu kental manis di atasnya.

Cara Pembuatan Tekwan
1. Campur semua bahan menjadi satu kecuali sagu aduk rata menggunakan sendok kemudian masukan sagu sedikit demi sedikit aduk rata kembali.
2. Bentuk bulat-bulat adonan menggunakan 2 sendok atau kalau saya lumuri tangan dengan sagu kemudian ambil adonan sedikit-sedikit dengan jari bentuk bulat-bulat pipihkan cemplungkan di air mendidih.
3. Masak sampai biji tekwan timbul atau mengapung angkat dan tiriskan.

Cara Pembuatan Kuah Tekwan
1. Air tambahkan potongan bengkuang rebus sampai mendidih.
2. Haluskan bawang merah bawang putih dan udang, kemudian tumis sampai harum.
3. Masukan kedalam rebusan air, tambahkan merica halus dan garam.
4. Setelah mendidih masukan jamur kuping, sedap malam, daun sop dan daun bawang.
5. Masukan biji-biji tekwan masak kembali hingga biji-biji tekwan mengapung siap disajikan.

1. Ambil wadah untuk adonan Resep Empek Empek nya. Masukkan Daging ikan tengiri yang sudah dihaluskan terlebih dahulu supaya bisa tercampur sempurna dengan bahan bahan lainnya.
2. Masukkan garam dan 6 pcs bawang putih nya kedalam wadah adonan. Campur dengan daging ikannya dan aduk aduk sampai semua bahan tercampur rata.
3. Masukkan setengah bagian telurnya dan campur dan aduk lagi dengan bahan bahan lainnya sampai tercampur rata dan tidak ada gumpalan gumpalan.

4. Masukkan 250 gram tepung sagunya. Campur dengan semua bahan bahan sebelumnya sampai benar benar rata dan tidak ada gumpalan gumpalan.
5. Ambil sedikit adonan diatas dan buat bentuk memanjang, pendek atau sesuai ide anda sendiri untuk bentuk empek empeknya. Lakukan sampai semua adonan habis.
6. Siapkan satu tempat untuk merebus adonan yang sudah dibentuk di aras. Beri air secukupnya dan rebus semua adonan pempeknya dalam air yang mendidih sampai matang.
7. Siapkan satu wadah lagi untuk membuat kuah cukanya.
8. Masukkan air matang 0.5 liter, gula merah yang sudah dipotong kecil kecil dan asam jawa secukupnya. Rebus sampai mendidih sambil diaduk aduk supaya tercampur rata.
9. Masukkan garam secukupnya, bawang putih yang sudah dipotong kecil kecil dan garam sesuai selera. Bisa juga ditambahkan cabai rawit sesuai selera. Aduk kembali sampai semua bahan tercampur. Angkat kuahnya dan saring.

Bahan-Bahan Tekwan

Tekwan terbuat dari daging ikan giling atau kakap merah, sagu, bawang putih, air matang, minyak sayur, garam dan gula.

Untuk kuahnya memakai jamur kuping secukupnya, sedap malam, merica bubuk, garam, gula, bihun, daun sop dan daun bawang.

Bahan-bahan Empek-empek

Pada awalnya pempek dibuat dari daging ikan belida. Namun, dengan semakin langka dan mahalnya harga ikan belida, ikan tersebut lalu diganti dengan ikan gabus yang harganya lebih murah, tetapi dengan rasa yang tetap gurih.

Pada perkembangan selanjutnya, beberapa jenis ikan sungai lainnya juga dapat digunakan, misalnya ikan putak, toman, dan bujuk. Dipakai juga jenis ikan laut seperti tenggiri, kakap merah, parang-parang, ekor kuning, dan ikan sebelah. Bahkan ada juga yang menggunakan ikan dencis, ikan lele serta ikan tuna putih.

Penyajian pempek ditemani oleh kuah saus berwarna hitam kecokelat-cokelatan, yang disebut cuka atau cuko (bahasa Palembang). Cuko dibuat dari air yang dididihkan, kemudian ditambah gula merah, ebi (udang kering), cabai rawit tumbuk, bawang putih, dan garam. Bagi masyarakat asli Palembang, cuko dari dulu dibuat pedas untuk menambah nafsu makan. Namun seiring masuknya pendatang dari luar Pulau Sumatera maka saat ini banyak ditemukan cuko dengan rasa manis bagi yang tidak menyukai pedas. Pelengkap yang lain untuk menyantap penganan khas ini adalah mentimun segar yang diiris dadu dan mie kuning.

Sejarah Tekwan

Tekwan adalah penganan khas Palembang yang terbuat dari campuran daging ikan dan tapioka, yang dibentuk berupa bulatan kecil-kecil, dan disajikan dalam kuah udang dengan rasa yang khas. Biasanya pelengkap tekwan adalah sohun, irisan bengkoang dan jamur, serta ditaburi irisan daun bawang, seledri, dan bawang goreng. Tekwan berasal dari kata “Berkotek Samo Kawan”, yang dalam bahasa Palembang artinya duduk mengobrol bersama teman.

Sejarah Empek-Empek

Menurut sejarahnya, pempek telah ada di Palembang sejak masuknya perantau Tionghoa ke Palembang, yaitu di sekitar abad ke-16, saat Sultan Mahmud Badaruddin II berkuasa di kesultanan Palembang-Darussalam. Nama empek-empek atau pempek diyakini berasal dari sebutan apek atau pek-pek, yaitu sebutan untuk paman atau lelaki tua Tionghoa.
Berdasarkan cerita rakyat, sekitar tahun 1617 seorang apek berusia 65 tahun yang tinggal di daerah Perakitan (tepian Sungai Musi) merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah di Sungai Musi yang belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik, hanya sebatas digoreng dan dipindang. Ia kemudian mencoba alternatif pengolahan lain. Ia mencampur daging ikan giling dengan tepung tapioka, sehingga dihasilkan makanan baru. Makanan baru tersebut dijajakan oleh para apek dengan bersepeda keliling kota. Oleh karena penjualnya dipanggil dengan sebutan “pek … apek”, maka makanan tersebut akhirnya dikenal sebagai empek-empek atau pempek.

Namun, cerita rakyat ini patut ditelaah lebih lanjut karena singkong baru diperkenalkan bangsa Portugis ke Indonesia pada abad 16, sementara bangsa Tionghoa telah menghuni Palembang sekurang-kurangnya semenjak masa Sriwijaya. Selain itu velocipede (sepeda) baru dikenal di Perancis dan Jerman pada abad 18. Dalam pada itu Sultan Mahmud Badaruddin baru dilahirkan tahun 1767. Walaupun begitu memang sangat mungkin pempek merupakan adaptasi dari makanan Tionghoa seperti bakso ikan, kekian atau pun ngohiang.